Jakarta – Cokelat menjadi salah satu olahan kakao yang banyak digemari masyarakat, termasuk di Indonesia. Namun, siapa sangka kalau hasil pertanian kakao di Indonesia dinilai masih tergolong rendah.
Melihat hal ini salah satu Entrepreneur Heroes BNI, Kadek Surya Prasetya Wiguna pun terdorong untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia, khususnya di Desa Cau, Bali.

“Cokelat ini adalah salah satu turunan kakao yang paling favorit di seluruh dunia. Ada sekitar 1,7 juta kepala keluarga petani yang bekerja di bidang kakao. Dan kita punya di Indonesia sekitar 1,7 juta hektare lahan kakao di mana hasilnya 600 ribu ton per tahun. Jadi, bisa dikatakan hasil kakao masih rendah karena seharusnya kita bisa menghasilkan 1,7 juta ton per tahun,” ujarnya dalam acara Festival Ide Bisnis by Xpora, Senin (2/8/2021).

Melalui bisnis Cau Chocolates, Kadek berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao di Bali. Terlebih di Indonesia, Bali menjadi daerah yang terkenal akan pariwisatanya. Untuk itu, dirinya ingin produk-produk kakao bisa dirasakan oleh para wisatawan, baik di restoran atau di hotel.

“Cau Chocolates sebenarnya berdiri dari rasa kekhawatiran kami melihat perkembangan pariwisata di Bali. Karena dulu saat pariwisata digencar di Bali, petani dan pelaku pariwisata punya kehidupan yang berbeda. Nah, kami berpikir gimana jika petani kakao dapat menghasilkan lebih besar karena pariwisata di Bali. Oleh karena itu salah satunya cara adalah bagaimana menghasilkan cokelat, produk yang dibutuhkan oleh restoran, hotel sehingga cokelat yang ada di Bali tidak diimpor,” katanya.

Lebih lanjut Kadek mengatakan Cau Chocolates turut memberi kemudahan akses bagi petani kakao lokal untuk menyalurkan hasil pertaniannya. Bahkan, pihaknya juga berani meningkatkan harga kakao dengan memberdayakan petani menghasilkan biji kakao organik berstandar internasional.

Terlebih kadek menyebut, penelitian yang dilakukan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa petani kakao hanya menikmati 71% dari nilai yang seharusnya diterima.

“Bali hanya memiliki sekitar 12-15 ribu hektare pertanian kakao dengan hasil 6.000 ton per tahun. Satu-satunya cara Bali bersaing adalah dengan membuat produk kakao jadi unik, yaitu organik coklat. Harganya pun bisa naik hingga 150-200%,” ungkapnya

“Yang kami lakukan adalah meningkatkan harga beli kakao di petani di mana petani ditantang untuk menghasilkan produk berstandar internasional. Itulah mengapa kami bisa membeli produk dengan harga tinggi karena kami pun bisa menjual harga dengan cukup tinggi sesuai harga internasional,” paparnya.

Di samping mendorong kualitas biji kakao, Kadek mengatakan pihaknya juga meningkatkan kesejahteraan petani dengan cara membeli kakao secara langsung. Dengan demikian, para petani dapat menerima harga yang seharusnya.

“Kami juga memotong jalur distribusi, jadi kami langsung membeli kakao ke petani. Tidak lagi ke tengkulak. Kami sebagai petani kakao juga ikut mengontrol kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan,” paparnya.

Soal kesuksesan Cau Chocolates, Kadek mengatakan hal ini tak dapat dipisahkan dari ekspor. Untuk itu, pihaknya selalu memastikan kualitas produk telah sesuai dengan standar internasional.

“Pada prinsipnya ketika kita bicara ekspor yang paling utama ada standar kualitas. Kami di Cau Chocolates telah memiliki banyak sertifikasi seperti Organik Indonesia, Organik Eropa, halal, GMP. BPOM, ISO 9001:2015,” katanya.

Sementara dalam kegiatan ekspor, Kadek mengatakan Cau Chocolates juga bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk perbankan. Dirinya juga memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produknya ke luar negeri.

“Adanya BNI Xpora juga membantu kita. Bagaimana BNI menyiapkan kantor cabang di luar (negeri) sehingga dapat bekerja sama dengan UMKM untuk mendapatkan market di luar negeri,” paparnya.

Ke depan Kadek mengatakan akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas kakao di Indonesia. Dengan demikian Indonesia bisa menghasilkan kakao tanpa harus impor.

“5 tahun terakhir, impor kakao meningkat sebesar 180.000 ton. Hal positif yang bisa kita ambil adalah kalau kita bertani kakao maka produk yang kita hasilkan sudah pasti ada marketnya. Inilah yang menjadi tantangan bagaimana kita menghasilkan kakao sendiri untuk kebutuhan dalam negeri,” katanya”

“Inilah yang sedang kami lakukan untuk (mendorong) petani yang tadinya tidak menghasilkan harga baik, kami bisa berikan dengan harga yang sangat baik. Salah satunya yang kami lakukan dengan standardisasi organik dan fermentasi, yang merupakan standarisasi dunia,” pungkasnya

Untuk mengetahui cerita inspiratif dari para Entrepreneur Heroes BNI lainnya, kamu bisa menyaksikan acara Festival Ide Bisnis Xpora by BNI yang masih berlangsung hingga 3 Agustus 2021 mendatang.

Acara ini bisa disaksikan pada pukul 13.00-14.30 WIB melalui streaming di detik.com/ide-bisnis-xpora. Yuk ikut dan dapatkan Ide Bisnis Ekspor yang Kreatif dari Para Entrepreneur Heroes BNI #EksporJadiMudah #UMKMGoGobal #SemangatBangkitdariCorona sponsored by BNI.

https://news.detik.com/berita/d-5666934/cerita-umkm-cokelat-di-bali-berdayakan-petani-kakao-lokal/amp

Item added to cart.
0 items - Rp0.00